Desain Bentuk dan Ciri Khas Arsitektur Bali

    0
    31

    Arsitektur  Bali disebut  tata ruang yang mewadahi kehidupan masyarakat Bali yang  berkembang secara berskala sesuai aturan zaman dahulu hingga sekarang. Arsitektur Bali adalah gaya arsitektur  yang  memakai  bahan lokal untuk membuat bangunan, struktur, dan rumah-rumah, serta mencurahkan tradisi lokal.

    Arsitektur Bali sangat dipengaruhi oleh tradisi Hindu, serta unsur-unsur Jawa Kuno. Bahan yang biasa digunakan di rumah dan bangunan Bali dari atap jerami, kayu kelapa, bambu, kayu jati, batu, dan batu bata. Arsitektur Bali mempunyai  karakteristik dengan budaya kuno dan kesenian di setiap sisi desain.

       

     

    pesona Bali kental dengan bentuk dan ciri khas arsitekturnya yang berbeda dan punya unsur kuat. Arsitektur Bali sangat digemari di mana-mana, bahkan di mancanegara. Arsitektur Bali terdapat unsur-unsur Jawa kuno. Dan unsur-unsur itulah yang membedakan Pulau Bali dengan pulau pulau lain yang di Indonesia. 

    ,

    Bentuk Arsitektur Bali

    Bentuk dan struktur badan bangunan arsitektur  Bali dibuat dengan pola bebatuan yang cukup sederhana. Bentuk  segi empat panjang merupakan bentuk yang paling banyak digunakan untuk bentuk bangunan induk rumah tinggalnya. Untuk bagian atapnya sebagian menggunakan bentuk limasan dan beberapa menggunakan bentuk pelana seperti bangunan dapur.
    Struktur badan arsitektur  Bali mengunakan tiang (sesaka) yang terbuat dari kayu. Untuk struktur bagian atap menggunakan bahan kayu yang dikombinasikan dengan bahan bambu. Dalam menggunakan kayu, masyarakat Bali tidak sembarangan memilih. Masyarakat Bali terutama masyarakat adatnya mempunyai kualifikasi atau jenis tertentu pada setiap jenis bangunan di Bali.
    Masyarakat memilih kayu seperti kayu cendana, menengen, cempaka, kuanitan, majegau, ketewel, teger, bentul, sentul, sukun, seseh, dan timbul. Sedangkan untuk lumbung (jineng) dan dapur (jineng) menggunakan kayu wangkal, kutat, blalu, sudep, seseh, dan bahu.

                                       

    Masyarakat Bali, terutama warga adatnya memiliki kualifikasi atau jenis tertentu dan juga keunikan tersendiri  pada setiap jenis bangunan di Bali.disetiap adat Bali mempunyai macam bentuk sesuai adatnya masing-masing.

     

    Macam Bentuk Bangunan Adat Arsitektur Bali

    Arsitek yang biasanya menangani rumah adat Bali pastinya mempunyai pedoman tersendiri untuk membangun rumah adat tersebut. Misalnya berpedoman kepada kosala kosali, dengan begitu, arsitek dapat mendesain rumah adat bali sesuai yang diinginkannya. Dibawah ini beberapa bangunan rumah adat Bali :

    1.Bangunan Angkul-Angkul

     

    Angkul-angkul ialah  bangunan arsitektur Bali yang menyerupai gapura yang juga mempunyai fungsi sebagai pintu masuk. Ada hal yang membedakan angkul-angkul ini dengan yang lainnya, yaitu bangunan ini memiliki atap di atasnya.Ini adalah pintu masuk utama sebelum masuk rumah. Sebenarnya, hampir sama dengan Gapura Candi Bentar, fungsinya adalah sebagai pintu masuk. Namun sebagai pembeda, pada angkul-angkul ini terdapat atap yang menghubungkan kedua bangunan yang letaknya sejajar.

     

    2.Bangunan Aling-Aling

     

     

     

    Bangunan arsitektur Bali ini merupakan bangunan yang berdominan sebagai pembatas  antara angkul-angkul dan juga pekarangan ruangan atau biasa di sebut sebagai tempat suci. Ternyata aling-aling ini memiliki arti tersendiri yaitu terkenal dengan adanya hal-hal positif yang masuk apabila terdapat aling-aling di rumah tersebut.

    Dahulu di Bali, sebuah aling-aling biasanya  masyarakat  menggunakan kelangsah (daun kelapa kering) atau kelabang mantri sebagai sarana proteksi dari kekuatan negatif.Dimana sulaman atau ulat-ulatan dari daun kelapa tersebut diletakkan pada aling-aling.Namun,ada yang menempatkan sebagai penghias aling-aling digunakan sebuah patung.berikut kegunaan aling-aling:

     

     

     

    • Sebagai pembatas antara angkul – angkul dan pekarangan rumah dan biasanya ada yang menggunakan patung Ganesha untuk simbol kebijaksanaan.
    • Sedangkan pembatas antara angkul – angkul dan tempat suci dalam pekarangan rumah, biasanya digunakan sebagai patung Nawa Sura & Nawa Sari.Dan diletakkan pada pintu masuk merajan atau sanggah, untuk tempat sembahyang di rumah

    3.Bangunan Sanggah

     

     

     

    Bangunan sanggah ialah arsitektur Bali yang biasanya terletak di sebelah ujung timur laut dari rumah sebagai bangunan suci. Fungsi dari bangunan sanggah untuk tempat sembahyang bagi keluarga besar yang biasanya melakukan sembahyang umat hindu.

    Di Bali, tempat untuk sembahyang disebut  dengan Sanggah Pemerajan. Sanggah Pemerajan berasal dari kata Sanggah yang artinya  Sanggar (tempat suci), Pemerajan yang berasal dari kata praja yang artinya keluarga.Jadi Sanggah Pameraja dapat diartikan sebagai tempat suci bagi suatu keluarga yang tertentu.

     

    Secara umum, kebanyakan orang menyebutnya dengan lebih singkat yaitu  Sanggah atau Merajan.Akan tetapi, yang perlu diketahui   tidak berarti bahwa Sanggah untuk orang Jaba, dan Merajan untuk Triwangsa. Hal seperti  ini terjadi kekeliruan di masyarakat sejak lama dan perlu dibenarkan.

     

    4.Bangunan Adat Bale Manten

     

     

    Bangunan satu ini merupakan bangunan arsitektur Bali yang khusus untuk anak perempuan dan kepala keluarga. Bale tersebut berbentuk persegi panjang dan biasa diletakkan di bagian sebelah timur. Di dalam ruangan bale tersebut terdapat 2 bale yang lainnya biasa terdapat di sebelah kanan dan juga kiri.

    Bale Manten digunakan sebagai tempat tidur kepaka keluarga, anak gadis, dan sebagai gudang atau tempat untuk  penyimpanan barang pusaka keluarga. Bale Manten digunakan juga untuk kamar khusus bagi pasangan yang baru menikah.

     

    Ciri Khas Arsitektur Bali

     Hampir semua bangunan arsitektur Bali mencerminkan  material yang kental dengan nuansa alami dan juga pahatan yang indah pada bagian pintu.

    Tidak heran apabila arsitektur Bali  sangat digemari dan dikagumi oleh seluruh pelosok Indonesia maupun mancanegara. Melihat keunikan dari arsitektur khas pulau dewata ini, kami akan memaparkan ciri khas dari bangunan arsitektur Bali.

    1. Harmoni dengan alam

     

     

    Salah satu unsur yang kental dari arsitektur di Bali  ialah konsep arsitektur yang harmoni dengan lingkungan alam. Arsitektur harmoni ini merupakan  karakter dan inheren sebagai watak  dasar arsitektur Bali.

    Dengan konsep Tri Hita Karana, arsitektur Bali  terdiri  dari 3 unsur pengubung kerharmonisan yaitu jiwa, raga dan tenaga. Tiga unsur ini  menciptakan keharmonisan hubungan antara lingkungan alam, antar-manusia serta manusia dengan Tuhan. Biasanya bangunan tersebut ditandai menggunakan material yang kental akan nuansa alam seperti batu-batuan alam ataupun bambu.

     

    2. Adanya ukiran di batu atau patung

     

     

    Mulai saat kedatangan kerajaan Majapahit di sekitar abad 15, arsitektur Bali secara umum mendapatkan pengaruh dari budaya Hindu. Kedatangan Majapahit  meninggalkan kebudayaan di Bali yaitu teknik pahatan di batu . Karya-karya pahatan dari batu tersebut kemudian diletakkan di depan rumah dan digunakan sebagai pura atau tempat ibadah orang Hindu.

    Seiring perkembangan jaman, selain kehadiran pura kecil di depan rumah, patung juga menjadi salah satu gaya arsitektur yang indentik dengan Bali.

     

    3. Struktur ruang yang  rapi

     

     

    Gaya arsitektur Bali dibuat menggunakan konsep Tri Angga yang merupakan konsep keseimbangan.  Tri Angga  ialah pembagian zona atau area pada perencanaan arsitektur tradisional Bali yang memperlihatkan tiga tingkatan yaitu:

    –  Utama atau kepala. Pada bagian ini diposisikan paling tinggi yang mewujudkan dalam bentuk atap. Pada arsitektur tradisional, pada bagian ini menggunakan atap ijuk dan juga alang-alang. Namun seiring perkembangan zaman, bagian atapnya mulai menggunakan bahan modern seperti, genteng.

    –  Madya atau badan. Bagian tengah dari bangunan ini mewujudukan dalam bentuk bangunan dinding, jendela dan pintu.

    –  Nista atau kaki. Bagian yang terletak di bawah dari sebuah bangunan. Bagian ini mewujudkan dengan pondasi rumah atau bagian bawah rumah yang digunakan sebagai penyangga rumah. Biasanya, pada bagian ini  dibuat dengan batu bata atau batu gunung.

     

     

     

     

    Leave a Reply