Dibalik Karya Seni Instalasi Bambu Joko Avianto Yang Fenomenal

6385
karya instalasi bambu the continuous gate art
Art-Stage-Singapore-2014_Joko-Dwi-Avianto_The-Continuous-Gate

Rumahkreative.id – Joko Avianto seorang seniman kelahiran Cimahi, Jawa Barat, 42 tahun yang juga merupakan alumni ITB  yang Berbagai karyanya sudah menghiasi kota-kota dunia dan telah ikut dalam beberapa pertunjukan seni level internasional. Karyanya mulai dikenal luas ketika karyanya tampil dalam rangkaian acara Frankfurt Book Fair tahun 2015. Material

Karya kerajinan instalasi bambu ciptaannya itu pun mendapat banyak pujian publik internasional mulai dari Frankfurt, Singapura, Yokohama sampaihingga di tingkat lokal di seperti Yogyakarta dan Bandung.

Belakangan dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan dan Asian Games, nama Joko Avianto santer diberitakan terkait karya kerajinan instalasi bambu “Getih Getah” . Instalasi tersebut disusundibuat dari 1.500 bambu, yang 73 diantaranya menjadi penopang yang menyimbolkan 73 tahun perayaan kemerdekaan Republik Indonesia.

Baca juga : Instalasi Bambu Dewi Sri di Jatiluwih karya Indah Pesaing Getih Getah

Santer saja karya tersebut mendapat apresiasi, namun juga karya ini ternyata juga menuai kontroversi di media sosial dari segi estetis maupun politis, yang hingga saat in masih hangat di perbincangkan yang berhubungan dengan pilgub DKI.

Latar Belakang Joko Avianto

Joko Avianto yang terkenal akan karya instalasi temporer, lahir pada 1976 merupakan alumni dari Institut Teknologi Bandung beliau telah malang melintang di berbagai pameran nasional maupun internasional. Terakhir, karyanya dipamerkan di gelara bergengsi Yokohama Triennale 2017, bersama dengan seniman dunia lainnya seperti Ai Wei Wei.

Baca juga : Memilih Jasa Perawat Home Care Terbaik Di Indonesia

Joko Avianto telah menggunaan meterial bambu sejak tahun 2003, waktu itu masih dikombinasikan dengan media dan bahan lain. Alasan beliau tertarik dengan bambu sebagai media utama karya – karyanya salah satunya karena faktor sustainability dari bambu, selain itu bambu juga lekat dengan tradisi masyarakat Indonesia.

Lama waktu pembuatan karya seni kerajinan bambu memakan waktu hingga Sebulan , dimulai dari modul pemilihan bambu seperti pemilihan batang, diameter, kelenturan, kuat tidaknya. Hingga pemasangan atau instalasi yang memakan waktu, sekitar 24 hari.

Jejak Karya Seni Instalasi Bambu Joko Avianto

Karya kerajinan instalasi bambu ‘Getih Getah’ karya joko avianto yang ada di Bundaran Hotel Indonesia, bukanlah karya pertama yang digarap seniman satu ini, ada beberapa karya lain yang sudah berhasil menembus pameran tingkat dunia berikut diantara karyanya.

1. The Lost Vegetations (Art Jog Festival, Yogyakarta 2012)

Art Jog Merupakan festival, pameran, dan pasar seni rupa kontemporer yang digelar rutin setiap tahunan, Art Jog digelar di lokasi Taman Budaya Yogyakarta. Acara festival ini pertama kali diadakan pada tahun 2008 dengan nama Jogja Art Fair yang merupakan rangkaian acara Festival Kesenian Yogyakarta XX.

Kerajinan bambu The Lost Vegetations art jog 2012
The Lost Vegetations art jog 2012

Untuk Art Jog 2012 diselenggarakan pada 4-28 Juli 2012 di Taman Budaya Yogyakarta dengan tema “Looking East — A Gaze upon Indonesian Contemporary Art”. ada banyak Karya yang ditampilkan dengan total berjumlah 192 karya yang terdiri dari 93 lukisan, 44 instalasi, 25 foto, 12 patung, 11 video, dan 7 artikel. Karya yang dipamerkan secara bergilir karena keterbatasan tempat, awalnya sekitar 70 % karya ditampilkan, setelah ada karya yang terjual maka setelah itu karya lainnya menggantikan tempatnya.

Instalasi bambu karya Joko Dwi Avianto ikut menghiasi pintu masuk Concert Hall TBY  Karya dengan judul `The Lost Vegetations’ tersebut mensimbolkan vegetasi “hutan” yang berpindah wujud, bahkan hilang. Kerajinan Bambu yang dihadirkan dalam instalasi ini merupakan bentuk perpindahan wujud dari tingkat vegetasi alami yang menjadi sekedar material yang dibentuk menjadi rumpun-rumpun (naungan) baru.

2. The Theatre of Ships (George Town Festival, Penang, Malaysia 2013)

The George Town Festival adalah festival budaya yang setiap tahunan rutin diadakan  yang diadakan di kota George Town di Penang , Malaysia . Merupakan salah satu festival seni besar yang di iluti beberapa negara dari seluruh dunia.

The 'Theatre of Ships' is designed by an Indonesian artist, Joko Dwi Avianto.
The ‘Theatre of Ships’ is designed by an Indonesian artist, Joko Dwi Avianto.

Diresmikan pada 2010, festival ini awalnya diadakan untuk merayakan prasasti George Town sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO . Dan sejak itu berkembang menjadi ” acara seni besar Asia “, acara ini mampu menarik sekitar 250.000 pengunjung pada tahun 2015.

Joko Dwi Avianto  mendapatkan pujian untuk instalasi bambu uniknya yang diberi namaTheatre of Ships yang ia rancang untuk George Town Festival (GTF) 2013.

Struktur raksasa instalasi bambu ini telah menarik perhatian banyak orang, termasuk salah satunya Kepala Menteri Penang Lim Guan Eng yang memuji Joko atas karya seni yang ia gambarkan menarik dan mengesankan.

“Ide instalasinya mencerminkan perkembangan Penang sejak didirikan dan perdagangan kapal mulai berdatangan ke pulau itu. Karya ini adalah cerminan warisan budaya yang kaya, kemajuan sejarah dan kemakmuran Penang.

Joko avianto, yang hadir, mengatakan struktur itu adalah instalasi terbesar yang pernah ia lakukan sejauh ini. Karya instalasi bambu setinggi 15m dan selebar 22m, yang menyerupai busur kapal ini, terbuat dari 3.000 buah batang bambu.

Karya Instalasi bambu joko avianto ini memerlukan waktu tiga minggu, dan dibantu dengan 14 orang untuk membangunnya dan membutuhkan sebanyak 3.000 batang bambu yang menutupi Balai Kota di George Town.

Baca juga : Kerajinan Indonesia Yang Mendunia

3. The Continuous Gate (Art Stage Singapore 2014)

Art Stage Singapore didirikan oleh Lorenzo Rudolf . Meski  awalnya  awalnya menolak proposal untuk meluncurkan Art Basel di Singapura pada tahun 1992 tetapi dia kemudian meninjau kembali gagasan untuk menciptakan gelaran pekan seni Asia yang unik. Pekan raya ini perlu sembilan tahun untuk direalisasikan. Edisi pertama diadakan pada 2011 di Marina Bay Sands

the continuous gate art
Art-Stage-Singapore-2014_Joko-Dwi-Avianto_The-Continuous-Gate

Karya joko avianto kali ini dia beri nama  The Continuous Gate yang ikut serta meramaikan festival seni di  Art Stage Singapore tahun 2014, dia jadi salah satu seniman asal indonesia yang mengikuti pameran ini.

4. The Big Trees (Frankfurt Book Fair  2015)

Joko Avianto yang memajang 1500 batang bambu dari jenis awitali dan betung di depan fasad Frankfurter Kunstverein. Salah satu bangunan tertua di Romerberg tersebut ternyata menarik minat pengunjung yang lalu lalang sekaligus menjadi bahan penelitian bagi penggiat botani dan arsitektur.

 Karya Seni Instalasi Bambu The Big Trees (Frankfurt Book Fair  2015)
The Big Trees (Frankfurt Book Fair  2015)

Karyanya joko kali ini ungkapnya merupakan sebuah kehormatan dan tantangan yang cukup berat. Menurutnya Pameran ini sangatlah menantang karena dibandingkan pengalaman sebelumnya di Singapura dan Malaysia, pameran di Eropa jauh secara jaraknya dan dan pastinya memakan biaya yang tidak sedikit.

Karya instalasi bambu miliknya kali ini dia beri judul ‘Big Trees’ atau ‘Pohon Besar’, meski mengalami kesulitan seperti pengerjaan yang harus diawasi dewan kota setempat dan tim arsitektur Frankfurter Kunstverein, Jerman.

Proses yang penjang hingga memakan waktu hingga 20 hari dengan menggunakan 1500 batang bambu pilihan terbaik, akhirnya dapat selesai dengan sangat memukau. batang bambu tersebut berhasil berdiri meliuk-liuk dengan indahnya. Estetikanya pun seperti angin bertiup.

Karya berjudul ‘Big Trees’ ini membawa pesan isu perubahan alam, salah satunya mengkritisi kurangnya tumbuhan di kota-kota besar. Karya Instalasi bambu di Frankfurter Kunstverein menjadi salah satu karya seni terbaik di pameran ‘ROOTS. Indonesia Contemporary Art’ yang terselenggara berkat kerjasama Galeri Nasional Indonesia dan Kunstverein.

5. The border between good and evil is terribly frizzy (Yokohama Triennale 2017)

terinspirasi oleh shimenawa , atau tali tradisional Jepang yang digunakan untuk membatasi garis sakral dan profan, menenun 2.000 pucuk bambu yang diimpor dari Indonesia di tengah aula masuk tempat Museum Seni Yokohama.

Karya Joko Avianto,The border between good and evil is terribly frizzy , mengambil judulnya dari kutipan penulis novel Milan Milan Kundera, “Perbatasan antara yang baik dan yang jahat sangat tidak jelas,” menggantikan kata “fuzzy” dengan “frizzy” untuk menggambarkan keriting bentuk patungnya untuk Yokohama Triennale 2017, terbuat dari 1.600 batang bambu Indonesia.

The border between good and evil is terribly frizzy (Yokohama Triennale 2017)
The border between good and evil is terribly frizzy (Yokohama Triennale 2017)

Bagi Avianto, shimenawa sama dengan awan yang mengelilingi Gunung Semeru, nama gunung tertinggi di pulau Jawa yang diambil setelah Sumeru, gunung dunia-pusat dalam kosmologi Buddhis. Awan melambangkan batas antara bumi dan surga, sangat mirip dengan apa yang berdiri shimenawa .

Dia memutuskan untuk membuat gerbang mirip shimenawa di aula masuk Museum Seni Yokohama yang membentang selebar 13 meter untuk membuat perbatasan yang menjulang tinggi di atas pengunjung di pintu masuk museum. Ketika para pengunjung memasuki museum, karya Avianto memberi isyarat kepada pengunjung untuk melanggar batas, dan pindah dari sini ke sana, secara harfiah menghubungkan dua dunia yang berseberangan.

 

No ratings yet.

Please rate this

Tinggalkan Koment