Ketidaksetaraan Gender di Dunia Seni Rupa

    44

    Semangat perubahan untuk mewujudkan kesetaraan gender menjadi pesan yang digaungkan dalam perayaan Hari Perempuan Internasional, pada 8 Maret lalu. Dorongan perubahan itu salah satunya meliputi dunia seni karena masih minimnya peran perupa perempuan di wilayah tersebut.

    Berkaitan dengan hal itu, para seniman perempuan menggelar aksi di Trafalgar Square, London, Inggris, pada 8 Maret lalu. Mengusung tagar #ArtWorldSexism, aksi yang digagas situs jual beli karya seni Artfinder digelar untuk menyuarakan soal masih kuatnya ketidaksetaraan gender dalam dunia seni.

    Setidaknya fakta terkait hal itu tersaji dalam laporan yang dikeluarkan Artfinder, The Artfinder Gender Equality Report 2017. Berdasarkan laporan tersebut tertulis, dari 100 karya seni yang terjual di pasar seni global pada 2015, hanya terdapat satu karya milik seniman perempuan. Selebihnya masih didominasi karya-karya seni ciptaan perupa laki-laki.

    Kemudian pada 2004, saat pihak The Museum of Modern Art (MoMA), New York, Amerika Serikat membuka gedung baru, mereka hanya memajang 16 atau 4% karya perupa perempuan dari 410 koleksi karya seni yang berasal dari rentang 1880 hingga 1970. Meski pada April 2015 ada penambahan koleksi perupa perempuan, tetapi belum signifikan hanya mencapai 7%.

    Di tahun yang sama, harga jual karya seni kaum hawa jauh tertinggal dibandingkan dengan karya kaum adam. Tim penyusun laporan itu menuliskan, terdapat kesenjangan harga karya seni perempuan dan laki-laki dengan nilai US$135 juta.

    Lukisan Les Femmes d’Alger karya Pablo Picasso menjadi yang termahal yaitu US$160 juta. Sedangkan harga tertinggi karya seni perupa perempuan termahal hanya dibanderol dengan US$25 juta untuk patung Spider karya Louise Bourgeois.

    Laporan laporan itu juga menyinggung soal seberapa banyak perupa perempuan yang menggelar pameran di ruang-ruang seni. Selama 2007 hingga 2014, tercatat hanya 25% seniman perempuan yang menggelar pameran tunggal di galeri seni Tate Modern di Inggris. Hal tak jauh berbeda juga terdapat di MoMA. Jumlahnya hanya 20% pameran tunggal perupa perempuan.

    “Salah satu masalah terbesar adalah kurangnya data [terkait perupa perempuan] yang dapat diandalkan. Kami menerbitkan data kami, meminta lembaga seni, museum, dan galeri di dunia untuk membuat sebuah kerangka kerja untuk transparansi data gender. Perupa perempuan harus menikmati tingkat keberhasilan yang sama [dengan seniman lelaki],” ujar CEO Artfinder Jonas Almgren.

    No ratings yet.

    Please rate this

    Tinggalkan Koment