Sejauh Mana Ketergantungan Kita Terhadap Facebook & Google

69
ketergantungan facebook google

Teknologi sudah secanggih sekarang ini, kalau mau mencari sesuatu bisa dibantu sama Google.

Coba kita ingat kalau Google menguasai hampir seluruh informasi di bumi.
Hampir
..
Kecuali informasi yang tidak kita input ke internet.
Teknik SEO agar memunculkan artikel di halaman terdepan Google membantu sang mesin pencari untuk memetakan informasi selengkap mungkin.
Bisa dikatakan, terjadi simbiosis mutualisme. Sang search engine Google diuntungkan dengan masuknya database informasi ke arsipnya, sedangkan sang pelaku SEO diuntungkan karena ia berhasil menempatkan bisnisnya di halaman terdepan hasil pencarian Google, yang mana peluang laris bisnisnya semakin tinggi dari hasil pencarian keyword yang ia bidik dalam artikel ber-SEO.
Google semakin naik popularitasnya karena semakin banyak orang yang mengisi blog dan website dengan artikel yang mengandung kaidah SEO Google.
Terlebih, saat ini bisnis smartphone Android sudah sangat berdarah-darah. Hampir setiap bulan selalu ada tipe smartphone Android yang baru, dengan spesifikasi yang sebenarnya tidak jauh berbeda antara satu merk dengan merk lain. Persaingan spesifikasi produk dan harga berperan di sini. Tergantung angle iklan sang merk smartphone yang akan disantap oleh konsumen penggila gadget.
Diakui atau tidak, Google sudah membersamai aktifitas keseharian kita. Tanpa Gmail, tanpa Android, tanpa Youtube, tanpa Chrome, atau produk Google yang lain, rasanya ada yang kurang dalam aktifitas kita. Aktifitas online kita terbiasa menggunakan produk Google. Meskipun kita menggunakan smartphone selain Android, namun minimal layanan Gmail atau Google Maps juga kita instal di smartphone kita, kan?
Lalu, jangan lupa juga bahwa Facebook pun berbisnis di trafik dan informasi yang nyaris mendetail.
Facebook tahu kita ada dimana, Facebook tahu kita menggunakan smartphone tipe dan OS apa, Facebook tahu kita suka berinteraksi dengan siapa saja, dan banyak hal lain.
Bolehkah jika menyebut Facebook telah membersamai aktifitas keseharian kita juga seperti Google?
Boleh jadi, aktifitas online kita justru lebih sering dihabiskan di depan layar Facebook daripada Google.
Perlu bukti Facebook sedemikian mengerikannya?
Coba gunakan fasilitas Facebook Ads untuk beriklan secara resmi. Kita bisa mengukur sejauhmana dan sedetil apa jangkauan iklan kita.
Dari kota tempat tinggal target market kita, apa gadget yang mereka pakai, apa saja yang mereka sukai, hingga perilaku belanja produk murah atau mewah pun bisa kita bidik menggunakan fasilitas Facebook Ads.
Pengguna Facebook pada bulan Januari 2014, disebutkan berjumlah 62 juta orang, sedangkan per November 2015 penggunanya bertambah mencapai jumlah 79 juta orang dengan rincian 42% wanita dan 58% pria. Diprediksi per hari ini peningkatan pengguna Facebook sudah melonjak lebih tinggi lagi.
Jadi, masuk akal, kan jika Facebook disebut sebagai bidang bisnis trafik? Iya, karena penggunanya banyak dan bertambah terus dari waktu ke waktu selama beberapa tahun terakhir.
Lepas dari keunggulan Facebook dan Google tadi, coba sekarang kita sedikit bahas mengenai rencana pemerintah untuk memblokir layanan Google, Facebook dan Twitter karena berbisnis di Indonesia namun belum membayar pajak kepada negara.
Data di tekno.kompas.com menyebutkan bahwa Kemenkominfo mencatat putaran uang iklan digital di Indonesia mencapai 800 juta dollar AS atau setara 10,7 triliun rupiah. Sayangnya, tak satupun dari nilai tersebut yang kena pajak karena adanya celah pada aturan hukum.
Pihak terkait sedang mengusut mengenai transaksi digital yang bergulir di antara ketiga perusahaan raksasa tersebut, karena ketiganya telah membuka kantor representative di Indonesia dan memiliki pengguna yang sangat besar di tanah air. Menkominfo Rudiantara mengatakan laporan pajak perusahaan internet yang sudah ada di Indonesia akan diawasi lebih ketat.
Sementara kita lepas Twitter terlebih dahulu dari artikel ini. Kita fokuskan ke Facebook dan Google saja.
Ada data lain pada tahun 2013 di gadgetan.com menyebutkan bahwa pengguna Android berjumlah 81% pria dan 19% wanita. Rentang usia paling dominan adalah 25-34 tahun (40%) disusul oleh rentang usia 18-24 tahun (34%). Sebagian dari mereka tinggal di daerah perkotaan (54%) dan sisanya di daerah.
Dari data tersebut, berarti setiap pengguna Android memiliki akses ke Google, betul? Karena syarat menggunakan seluruh fasilitas smartphone Android adalah memiliki akun Google.
Dari berita tersebut, coba kita resapi bersama. Sejauhmana kekuatan genggaman Facebook dan Google dalam membantu aktifitas keseharian masyarakat Indonesia? Sejauhmana tingkat ketergantungan kita terhadap produk Facebook dan Google?
Masyarakat kita sudah semakin melek terhadap teknologi. Yang semula tahunya Facebook, kini sudah bisa berbelanja online melalui fitur pencarian Google. Atau, sekarang peningkatannya sudah bisa berjualan melalui social media Facebook, blog dan website yang mengandung kaidah SEO Google.
Masyarakat kita sudah mulai terbiasa berkirim pesan melalui email, terutama Gmail karena biasanya menggunakan smartphone Android. Baik untuk tujuan bisnis, memenuhi tugas kuliah, atau mungkin juga untuk tujuan personal lainnya.
Ada dua pertanyaan mendasar yang mungkin bisa kita pertimbangkan,
1. Apakah kita sudah siap melepas kemelekatan dengan fasilitas yang sudah biasa kita nikmati setiap waktu dari Facebook dan Google?
2. Apakah SDM Start Up Digital di Indonesia sudah siap untuk bertumbuh-kembang lebih pesat lagi?
Sebagai penutup, ada satu pertanyaan lagi.
Apakah kita akan menutup mata dan telinga dari segala fenomena ini seakan tidak ada potensi masalah, ataukah akan bertindak semampu dan sesuai porsi kita untuk mewujudkan Indonesia menjadi bangsa yang berkembang lebih baik lagi?
No ratings yet.

Please rate this

Tinggalkan Koment