Teori Estetika Arsitektur Modern dan Post Modern

230
teori arsitektur modern

Seagram   building   adalah   bangunan skyscraper pertama  yang  berhasil  diselesaikan  oleh  Mies. Seagram dirancang   untuk   melambangkan   keanggunan   dan prinsip –prinsip modernism.

Bangunan ini terdiri  dari 38 lantai dan dilengkapi plasa pada lantai dasar. Bangunan ini menganut  gaya  international  style. Dalam  arsitektur  modern,  kita  akan melihat  kesan  simple  dan  tanpa  ornamen  atau  hiasan. Pemaknaan  sebuah bangunan  tak  akan  lepas dari  pemikiran  sang  arsitek. Untuk  mendapatkan kesan pada sebuah karya arsitektur, harus melihat pandangan dan pemikiran dari arsitek.

Pemikiran dan konsep Mies van der Rohe

Mies van der rohe atau Ludwig Mies van der Roheadalah arsitektur dari Jerman yang menerapkan prinsip “Less is More”(2)dan “God is in the details”(3)yang artinya kesederhanaan adalah sebuah estetika dinilai lebih, dimana fitur dalam disain tidak diperlukan dan minimalis adalah sebuah kewajiban, dimana arsitek dituntut untuk lebih simple dan berani berimajinasi dengan batas-batas minimalis tertentu. Prinsip ini dijadikan sebagai pedoman dalam arsitektur modern.

Pemikiran modernis  Mies dipengaruhi oleh banyak gerakan desain dan seni. Dia    selektif    mengadopsi    ide-ide    teoritis    seperti    kredo    estetika    Rusia Konstruktivisme    dengan    ideologi    mereka    “efisien”    konstruksi    patung menggunakan   bahan-bahan   industri   modern.   Mies merancang   dengan menggunakan  bentukbujursangkar  yang  sederhana  dan  bentuk  planar, garis-garis  yang  bersih,  menggunakan warna  asli,  dan  perluasan  ruang  di sekitar dan di luar dinding interior. Secara khusus, lapisan fungsional sub-ruang

dalam  sebuah  ruang  secara  keseluruhan  dan  artikulasi  yang  berbeda  dari bagian  seperti  yang  diungkapkan  oleh  Gerrit  Rietveld  menarik  Mies.Teori desain  dari  Adolf  Loos  ditemukan  resonansi  dengan  Mies,  khususnya  ide-ide pemberantasan  ornamen,  dangkal  dan  tidak  perlu  mengganti  diterapkan rumit dengan tampilan langsung dari bahan dan bentuk. Loos telah terkenal menyatakan  bahwa  “ornamen  adalah  kejahatan”.(4)Mies  juga  mengagumi ide-idenya  tentang  bangsawan  yang  dapat  ditemukan  dalam  anonimitas kehidupan modern.

Ludwig  Mies  menciptakan  sebuah  gaya  arsitektur  abad  kedua  puluh  yang berciri khas “clear” dan “simple“. Karyanya memanfaatkan bahan modern seperti  baja  dan  kaca  piring  untuk  mendekor  ruang  interior.  Ia  berusaha menerapkan konsep minimalis namun tetap seimbang dengan gayaarsitektur ruang terbuka. Gedung karyanya sering mendapat sebutan arsitektur “kulit dan  tulang”,  karena  kesederhanaannya.  Ludwig  Mies  menggunakan pendekatan rasional yang akan memandu proses kreatif desain arsitektur.(3)Teori dan prinsip-prinsip Arsitektur Ludwig Mies Van Der Rohe.

  • Mies menganut falsafah Rasionalisme dan arsitektur modern
  • Solusi   bangunan   harus   memungkinkan   untuk   gelar   optimal   dari fleksibilitas untuk  mengakomodasi  kebutuhan  ekonomi  sering  untuk merevisi pengaturan ruang hidup dan bekerja.
  • Bekerja  dalam  tiga  jenis  bangunan  trabeated:  rendah-naik  kerangka bangunan frame, bangunan bertingkat tinggi kerangka frame, dan satu lantai jelas-span bangunan.
  • Mengekspresikan  skala  dalam  hal kategori  keseluruhan  penggunaan atau memperhitungkan besarnya bangunan
  • Desain yang diasah untuk kesempurnaan yang lebih besar dalam setiap bangunan  berturut-turut
  • oleh  perbaikan  halus  dalam  proporsi  dan merinci bukan olehperubahan radikal dalam ekspresi keseluruhanoInteraksi  kritis  antara  bangunan,  konstruksi  fungsi  dan  struktur,  yang merupakan jantung dari arsitektur, sering menyentuh ekspresi puitis yang benar.
  • Dia percaya arsitektur menjadi proses sejarah, dan bahwa dalam arsitek konsekuensiharus  mengakui  hubungan  antara  fakta-fakta  signifikan dari  zaman  mereka  sendiri  dan  ide-ide  yang  mampu  membimbing fakta-fakta dalam arah bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya

Penerapan “Less is More” dalam sebuah karya arsitektur,diwujudkan dengan tidak  adanya  elemen  dan  pemakaian  material  dari  bahanindustriyang dibuat secara masal. Selain itu jenis material yang digunakan sebagian besar adalah kaca dan baja.

ARSITEKTUR POSTMODERN

MUSEUM TSUNAMI

Museum Tsunami Aceh adalah sebuah museum yang dibangun untuk mengenang peristiwa tsunami dan gempa bumi yang melanda wilayah Aceh dan sekitarnya pada 26 Desember 2004 silam. Desain museum ini dirancang oleh Bapak Ridwan Kamil dan merupakan hasil sayembara yang diselenggarakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias (BRR Aceh-Nias) pada 17 Agustus 2007 lalu. Pembangunan museum ini dimulai pada tahun 2007, diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 27 Februari 2009.

“Rumoh  Aceh  as  Escape  Hill”adalah  konsep  desain  yang  digunakan  oleh Ridwan Kamil dalam proses perancangan Museum Tsunami Aceh. “Emosi saya ikut  teraduk-aduk,  acapkali  air  mata  saya  tertumpah  saat  mengerjakan rancangan  museum  tsunami.  Buat  saya  Aceh  sangat  istimewa,”  kata  Kang Emil, sapaan karib Ridwan, dalam sebuah diskusi di Jakarta, tahun lalu. Ridwan menganggap Aceh sebagai rumah keduanya.

1.1. BentukDesain  Museum  Tsunami  ini  mengambil  ide  dasar  dari  rumoh Aceh.Rumoh Aceh adalah rumah tradisional Aceh yang berbentuk panggung.

Bentuk  rumah  panggung  dipilih  sebagai  hasil  pemikiran  kearifan  lokal terhadap respon bencana alam banjir dan tsunami.

Jika ini dilihat dari atas, Museum Tsunami Aceh menganalogikan sebuah epicenteratau pusat pusaran air dari gelombang laut tsunami.Bentuk inidirancang  untuk  merepresantikan building  as  a  momentsehingga  bisa mengingatkan peristiwa tsunami yang terjadi.

Bentuk  museum  juga  merepresentasikan  hubungan  manusia  dengan manusia  dan  hubungan  manusia  dengan  Tuhan. Dalam  islam  dikenal habluminnallahdan habluminnannas.   Tanda   panah   ke   atas   itu menggambarkan habluminnallahatau    hubungan    dengan    Allah,sedangkan ke arah horisontal menggambarkan hablumminannas.

Bentuk  keseluruhan  bangunan  Museum  Tsunami  juga  menganalogikan bentuk   kapal.   Bentuk   ini   juga   dimaksudkan   sebagai building   as   a moment.Kapal  adalah  satu  fenomena  yang  banyak  diketahui  oleh masyarakat    Aceh    dengan    terdamparnya    kapal    didekat    pantai menjadikan suatu kenangan atau momen yang tidak dapat dilupakan.

1.2.FasadKulit  luar  bangunan  Museum  Tsunami  Aceh  menyimbolkan  hubungan antar  manusia  yang  dicerminkan  dari  kebudayaan  lokal  Tari  Saman. Dimana ukiran kulit bangunan tersebut mengadopsi dari tari saman yang menurut  sang  arsiteknya  melambangkan  kekompakan  dan  kerja  sama antar manusia Aceh.

1.3.Tata Ruang DalamDalam tata ruang dalamnya Museum Tsunami dibagi menjadi beberapa bagian yang mempunyai makna tersendiri dari tiap bagiannya.1.3.1.Space of Fear

Dalam space  of  fear terdapat  sebuah  lorong  yang  bernama lorong    tsunami    yang    merupakan    akses    awal    pengunjung memasuki  museum. Air  mengalir  di  kedua  sisi  dinding  museum, suara gemuruh air, cahaya yang remang dan gelap, lorong yang sempit dan lembab, mendeskripsikan ketakutan masyarakat Aceh pada saat tsunami terjadi,sehinggadisebut space of fear.

1.3.2.Space of MemorySetelah melewati lorong tsunami pengunjung akan tiba di sebuah ruang   yang   dinamai Memorial   Hall. Ruangan   ini   berisikan   26 monitor   yang   melambangkan   tanggal   terjadinya   tsunami   26 Desember 2004 dimana setiap monitor tersebut berisikan gambar-gambar  kenangan  saat  kejadian  tsunami  saat  itu. Gambar  dan foto  ini  seakan  mengingatkan  kembali  kenangan  tsunami yang melanda Aceh atau disebut space of memoryyang tidak mudah untuk dilupakan dan dapat dipetik hikmah dari kejadian tersebut.

1.3.3.Space of SorrowMelewati  ruang  memori,  pengunjung  akan  dibawa  ke  Ruang Sumur   Doa (Chamber   of   Blessing). Ruangan   ini   berbentuk menyerupai  sumur dengan ketinggian 30 meter yang dindingnya berisikan   ribuan   nama   korban   yang   meninggal   dunia   akibat bencana   tsunami. Ruangan   ini   difilosofikan   sebagai   kuburan massal  tsunami  dan  pengunjung  yang  memasuki  ruanganini dianjurkan  untuk  mendoakan  para  korban  menurut  agama  dan kepercayaan masing-masing.Di  puncak  sumur  doa  terhadap  sebuah  cahaya  terang  yang mmembentuk   lafal   Allah. Ruangan   ini   juga   menggambarkan hubungan   manusia   dengan   Tuhannya   (hablumminallah)dan setiap manusia yang hidup pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.

1.3.4.Space of ConfuseDari   sumur   doa,   pengunjung   akan   dibawa   melalui   lorong cerobong  (Romp  Cerobong)  menuju  ke  ruangan  selanjutnya.

Lorong ini  didesain  dengan  lantai  yang  bekelok  dan  tidak  rata. Desain ini merupakan filosofi darikebingungan dan keputusasaan masyarakat  Aceh  saat  didera  tsunami  pada  tahun  2004  silam, kebingungan   akan   arah   tujuan,   kebingungan   mencari   sanak saudara yang hilang, dan kebingungan karena kehilangan harta dan benda, maka filosofi lorong ini disebut Space of Confuse.

 

1.3.5.Space of HopeLorong   cerobong   membawa   pengunjung   ke   arah   jembatan harapan (space   of   hope). Lorong   gelap   yang   membawa pengunjung   menuju   cahaya   alami   melambangkan   sebuah harapan  bahwa  masyarakat  Aceh  pada  saat  itu  masih  memiki harapan dari adanya bantuan dunia untuk Aceh guna membantu memulihkan   kondisi   fisik   dan   psikologis   masyarakat   Aceh. Di ruangan ini pengunjung juga bisa melihat 54 bendera negara yang telah  membantu  Aceh  saat  terjadi  bencana  tsunami  tahun  2004 yang  lalu.  Pada  setiap  bagian  bawah  bendera  terdapat  kata “Damai” dalam bahasa negara tersebut yang merepresentasikan bahwa     ke-54     negara     tersebut     membantu     menciptakan perdamaian di dunia khususnya di tanah Aceh.

B.TEORI ESTETIKA

Pengertian estetika dalam Garis Besar EstetikEstetika secara tradisional telah dipahami sebagai cabang filsafat yang berkaitan dengan keindahan dan hal yang indah dalam alam dan seni. (The Liang Gie, Garis Besar Estetik, 1983:16

Menurut John LangTeori estetika terbagi menjadi :

  1. Estetika FormalNilai estetika yang terfokus pada objek, dalam kontribusinya terhadap respon  estetis  mengenai  ukuran,  bentuk,  warna,  ritme,  sekuen  visual, dsb.
  2. Estetika SensoriNilai estetika sensori ditimbulkan dari suatu sensasi yang menyenangkan yang diperoleh dari warna, suara, textur, bau, rasa, sentuhan, dsb. yang dihadirkan  dalam  sebuah  lingkungan  yang  diciptakan.  Dengan  kata lain  estetika  ini  memperhatikan  aspek  fisiologis  yaitu  memunculkan sebuah ‘rasa’.
  3. Estetika SimbolikNilai  estetika  yang  dihasilkan  dengan  cara  memberikan  kesenangan pada seseorang secara sosio-kultural.
  4. Estetika intelektualSebuah  karya  arsitektur,  tidak  hanya  membawa  wujud  fisiknya  saja, tetapi  juga  dapat  ‘mengajak’  penggunanya  untk  merasakan  lebih ‘dalam’ lagi makna arsitektural objek tersebut melalui beberapa aspek estetika seperti yang telah disebutkan di atas.

Menurut Monroe Beardsley Terdapat tiga ciri yang menjadi sifat-sifat ‘membuat baik (indah)’ dari benda estetis pada umumnya. Ketiga ciri itu adalah sebagai berikut :

  1. Keasatuan (Unity)
    Berarti benda estetis itu tersusun secara baik atau sempurna bentuknya
  2. Kerumitan (Complexity)
    Benda  estetis  atau  karya  seni  kaya  akan  isi  dan  unsure  yang  salingberlawanan serta mengandung perbedaan-perbedaan yang halus.
  3. Sungguhan (Intensity)
    Benda  estetis   yang   abik   harus   mempunyai   kualitas   tertentu   yang menonjol bukan sekedar sesuatu yang kosong.

Menurut  para  modernis,  fungsi  dapat  dikategorikan  sebagai  penentu bentuk  atau  panduan  menuju  bentuk. Fungsi  menunjukan  ke  arah  mana bentuk harusditentukan. (Yuswadi Saliya, 1999). Hal ini mengacu pada slogan yang diungkapkan oleh Loius Sullivan yaitu Form Follow Function. Sebenarnya

jika  kita  bicara  mengenai  arsitektur,maka  kita  tidak  hanya  bicara  tentang fungsi  dan  bentuk  saja.  Masih  ada  unsur-unsur  lain  yang  juga  terkait  erat dengan  arsitektur,  yang  merupakan  konsekuensi  logis  dari  adanya  fungsi. Karena fungsi merupakan gambaran dari kegiatan, dimana kegiatan tersebutmembutuhkan  tempat/ruang  untuk  keberlangsungannya.  Sehingga  jika  kita membahas  fungsi,  tentunya  akan  berlanjut  dengan  pembahasan  tentang ruang.

Sedangkan bentuk   yang   menurut   Sullivan   merupakan   akibat   dari pewadahan  fungsi,  dapat  memberikan  ekspresi  tertentu.  Jadi  pembahasan fungsi tidak dapat dipisahkan dari pembahasan tentang ruang, bentuk dan ekspresi bentuk yang dihasilkan

Mengenai      suatu   ragam   pemahaman   cara,   rupa,   bentuk,   dan sebagainya yang ada dalam arsitektur post modern :

  1. Hybrid   Expression   adalah   Penampilan   hasil   gabungan   unsur–unsur modern     dengan:     Vernacular,     Local,     Metaphorical,     Revivalist, Commercial, dan contextual.
  2. Complexity  adalah  Hasil  pengembangan  ideology–ideology  dan  ciri–ciri  post  modern  yang  mempengaruhi perancangan  dasar  sehingga menampilkan perancangan yang bersifat kompleks. Pengamat diajak menikmati, mengamati, dan mendalami secara lebih seksama.
  3. Variable  Space  with  surprise  adalah  Perubahan  ruang–ruang  yang tercipta   akibat   kejutan,   misalnya:   warna,   detail   elemen   arsitektur, suasana interior dan lain–lain.
  4. Conventional    and    Abstract    Form    adalah    menampilkan    bentuk konvensional dan bentuk bentuk yang rumit (popular), sehingga mudah ditangkap artiinya.
  5. Eclectic adalah Campuran langgam–langgam yang saling berintegrasi secara kontinu untuk menciptakan unity.
  6. Semiotic adalah Arti yang hendak di tampilkan secara fungsi.
  7. Varible Mixed  Aesthetic Depending On Context Expression on content and  semaic  appropriateness  toward function.  Gabungan  unsur  estetis dan fungsiyang tidak mengacaukan fungsi.
  8. Pro Or Organic Applied Ornament adalah Mencerminkan kedinamisan sesuatu yang hidup dan kaya ornamen.
  9. Pro  Or  Representation  adalah  Menampilkan  ciri–ciri  yang  gamblang sehingga dapat memperjelas arti dan fungsi.
  10. Pro-metaphor adalah  Hasil  pengisian  bentuk–bentuk  tertentu  yang diterapkan pada desain bangunan sehingga orang lebih menangkap arti dan fungsi bangunan.
  11. Pro-Historical  reference  adalah  Menampilkan  nilai-nilai  histori  pada setiap rancangan yang menegaskan ciri-ciri bangunan.
  12. Pro-Humor ialah Mengandung nilai humoris, sehingga pengamat diajak untuk lebih menikmatinya.
  13. Pro-simbolic  adalah  Menyiratkan  simbol-simbol  yang  mempermudah arti dan yang dikehendaki perancang.

Pengertian Responsive dan Representational Meaning SecaraSingkat

Makna Responsif, terbagi atas :

  • Makna Afektif : Perasaan dan emosi seseorang ketika melihat suatu bentuk bangunan. Respons ini didasari oleh pengalaman dan budaya pengguna.
  • Makna Evaluatif : Penghayatan seseorang terhadap representasi dan emosi seketika berdasarkan kompetensinya.
  • Makna Preskriptif : Penghayatan seseorang untuk melakukan sesuatu setelah menglihat dan mengevaluasinya sistem Komunikasi melalui komponen bangunan

Makna Representasional terbagi atas

  • Makna  presentasional  :  Makna  yang  didapat  tidak  berbentuk  verbal, melainkan berupa ikon
  • Makna referensional : Penghayatan terhadap simbol bagi obyek atau peristiwa / kegiatan, penghayatan yang terjadi melalui bentuk, tekstur, warna, status, ukuran, dan atribut lain

C. KAJIAN ARSITEKTUR TERHADAP TEORI ESTETIKA

Kajian Arsitektur modern (Seagram Building)
Menurut Teori Monroe BeardsleyMenurut Monroe, bangunan estetik memiliki 3 ciri, yaitu unity, complexity, dan intensity.  Pada  seagram  building,  kita  akan  melihat  ketiga  ciri-ciri  tersebut pada:

  1.  Kesatuan (Unity)Seagram building merupakan bangunan dengan gaya international   style   yang   memiliki   ciri   bentuk   berupa geometri   murni   yang   setiap   elemen   pada   fasad bangunan memiliki fungsi.
  2. Kerumitan (Complexity)Material  yang  digunakan  pada  seagram  merupakan material  hasil  produksi  pabrik  yang  dikerjakan  secara  masal.  Material yang digunakan adalah baja dan kaca yang disusun mengikuti bentuk geometri murni.  Kesan  less  is  more  sangat  terasa dalam fasad bangunan ini, karena tidak ada ornamen yang digunakan sebagai “pemanis” bangunan. Semua  ornamen yang  ada  merupakan  perwujudan  dari fungsi yang ingin dihadirkan.
  3. Sungguhan (Intensity)Seagram Building merupakan perwujudan dari   fungsi   yang   ingin dihadirkan, yaitu kantor yang dilengkapi   lobi   serta   plasa   pada bagian    bawah. Karakter  “Less  is More”  sangat  terlihat  pada  seluruh aspek   bangunan. Sehingga   setiap elemen    yang    membentuk    ruang akan  memiliki  fungsi  masing-masing.  Tidak  ada  space  yang  terbuang (kosong)

Menurut VitruviusKarya arsitektur memiliki :

  1. Order
  2. Arrangement
  3. Eurythmy
  4. Symmetry
  5. Propriety
  6. Economy

Kajian arsitekrut post—modermBerikut ini adalah kajian arsitektur Museum Tsunami Aceh menurut teori estetika

John Lang.

1.Estetika Formal

Merupakan nilai estetika yang terfokus pada objek, dalam kontribusinya terhadap respon estetis. Dalam Museum Tsunami Aceh, estetika formal dihadirkan melalui bentuknya. Bentuk museum terinspirasi dari rumah panggung aceh, berbentuk seperti epicentrum dengan simetri putar. Tekstur kulitnya mengadopsi gerakan tari saman aceh.

2.Estetika Sensori
Merupakanestetika   yang   mmemperhatikan   aspek   fisiologis,   yaitu memunculkan  sebuah  rasa.  Pada  Museum  Tsunami  Aceh  pemunculan rasa dihadirkan di dalam museummelalui sekuen-sekuen cerita yang ingin diceritakan oleh museum. Penghadiran rasa dimunculkan melalui tekstur, pencahayaan, dan  suasana ruang.

3.Estetika SimbolikNilai
estetika  yang  dihasilkan  dengan  cara  memberikan  kesenangan pada seseorang secara sosio-kultural.Estetika simbolik dimunculkan dalam Museum  Tsunami  berupa  penghadiran  pengalaman  dalam  bencana tsunami.

4.Estetika Intelektual
Sebuah karya arsitektur, tidak hanya membawa wujud fisiknya saja, tetapi juga dapat ‘mengajak’ penggunanya untk merasakan lebih ‘dalam’ lagi makna  arsitektural  objektersebut.  Dalam  Museum  Tsunami  pengunjung akan  diajak  lebih  dalam  merasakan  cerita-cerita  yang  digambarkan melalui desain-desain museum.

Berikut ini adalah kajian arsitektur Museum Tsunami Aceh menurut teori Charles Jencks  mengenai    suatu  ragam  pemahamancara,  rupa,  bentuk,   dan sebagainya yang ada dalam arsitektur post modern.Museum tsunami aceh mengandung unsur Hybrid Expressiondimana museum menggabungkan unsur-unsur modern seperti warna bangunan dengan unsur-unsur  lokal  seperti  bentuk  yang  terinspirasi  dari  rumah  adat  dan  fasad  yang diambil dari tarian adat.

Ruang-ruang dalam  museum  tsunami menggambarkan variable space with surprise. Ruang-ruang diciptakan dengan warna, detail elemen arsitektur, dan suasana interior sehingga setiap ruang mengandung makna tersendiri.

Bentuk  dari  museum  tsunami  menampilkan conventional  and  abstract  formdimana  bentuknya  memiliki  ciri  khas  tersendiri  yang  meenyerupai  sebuah pusat pusaran air (epicentrum). Artinya menggambarkan gelombang tsunami itu sendiri.

Desain  museum  tsunami  juga pro  organicyang  ditunjukkan  dalam  bentuk bangunan  yang  dinamis  dan pro  metaphor yang  tergambar  dalam  bentukbangunan  yang  menyerupai  pusaran  air  sehingga  mengingatkan  pada gelombang tsunami. Dalam  desain  museum  tsunami  digunakan  prinsip Varible  Mixed  Aesthetic Depending  On  Context  Expression  on  content  and  semaic  appropriateness toward function sehingga unsur estetika dan fungsi tidak saling mengacaukan. Justru  unsur-unsur  estetika  mendukung  fungsi  bangunan  atau  ruangan  itu sendiri.

Sebagai  sebuah  museum  sudah  pasti  desain  museum  tsunami pro  historical reference, yaitu menggambarkan peristiwa tsunami it sendiri dan yang terakhir museum tsunami pro simbolic dengan menampilkan berbagai macam simbol untuk memperudah perancang menyampaikan arti yang dikehendaki

DAFTAR PUSTAKA(1)
http://www.archdaily.com/59412/seagram-building-mies-van-der-rohe/
(2) http://archmagazine.blogspot.com/2009/11/teori-dan-gerakan-arsitektur.html
(3) https://luckty.wordpress.com/2012/03/26/ludwig-mies-van-der-rohe-bapak-arsitektur-modern-di-logo-google/
(4) http://archiholic99danoes.blogspot.com/2011/11/tokoh-arsitektur-ludwig-mies-van-der.html
(5) http://arsitekdosenarsitektur.blogspot.com/2013/02/ludwig-mies-van-der-rohe.html

 

No ratings yet.

Please rate this

Tinggalkan Koment